Kiamat dan Perhitungan Amal

Kiamat terjadi bila manusia mati. Kehancuran bumi terjadi bila sudah waktu Kiamat. Terjadinya Kiamat berarti akhir kehidupan manusia; berarti kematian alam semesta dan berantakannya hukum-hukum alam yang berlaku di dunia, padamnya bintang-bintang, dan segala sesuatu bergerak menuju kefanaan. Allah berfirman :

(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran – lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya. ( Al Anbiyaa’ : 104 )

Terjadinya Kiamat adalah sesuatu yang gaib. Hanya Allah saja yang mengetahuinya. Rasulullah saw. pernah bertanya tentang soal ini. Lalu turunlah ayat berikut ini:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” ( Al A’raaf : 187 )

Terjadinya Kiamat berarti terjadinya perhitungan amal. Ini berarti perbedaan antara orang-orang Mukmin dan orang-orang kafir; pengembalian segala macam kezaliman kepada orang-orang yang berbuat zalim; perbedaan antara orang-orang bertakwa dengan orang-orang durjana, sebelum dan sesudahnya. Ini berarti pembersihan semua mahluk dari segala macam kesia-siaan dan kebatilan. Segala sesuatu bergerak menuju Penciptanya. Semua mahluk akan kembali kepada Tuhan dan Rajanya. Tentang masalah ini, Allah berfirman:

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. ( Shaad : 27 )

Terjadinya Kiamat dibarengi dengan perhitungan amal. Allah akan memperhitungkan amal manusia seluruhnya. Perhitungan yang dilakukan Allah tidak meninggalkan amal sekecil dan sebesar biji sawi sekalipun. Ada kaidah pokok yang menjadi ketentuan dalam memperhitungkan amal dan memberitahukan kepada anda secara rinci. Firman Allah menyebutkan bahwa Dia selalu bersama dengan manusia dan akan memberitahukan apa yang telah dilakukannya:

Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.( Al Mujaadilah : 7)

Dari kaidah pokok ini muncul berbagai kaidah yang memberikan rincian. Di Hari Kiamat kelak, kita akan melihat bahwa manusia tunduk pada pengawasan yang menakutkan tanpa dirasakannya. Kita juga akan melihat bahwa keingkaran orang-orang kafir tidak akan menguntungkan diri mereka. Selain itu, usaha mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi diri mereka sendiri. Bumi, lembaran-lembaran, buku-buku catatan mereka, lidah, tangan, kaki, dan telinga mereka menjadi saksi atas diri mereka. Bahkan, pendengaran, pandangan, dan kulit mereka semua memberikan kesaksian. Lalu, bagaimana bumi ini akan memberikan kesaksian atas manusia?

Rasulullah saw, membacakan firman Allah berikut ini:

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya. (Al Zalzalah : 4 )

Lalu, beliau berdiri dan bertanya, “Apakah kalian tahu kabar yang terkandung dalam ayat ini?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau berkata, “Kabar berita yang dikandungnya adalah memberikan kesaksian atas amal yang dilakukan seorang hamba di muka bumi.” Bagaimana buku-buku catatan amal manusia memberi-kan kesaksian? Perhatikan firman Allah berikut ini:

Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). ( An Nuur :24-25 )

Pendengaran, penglihatan, dan kulit, juga memberikan kesaksian sama seperti halnya lidah, dan tangan, dan kaki. Allah berfirman dalam Alquran:

Dan (ingatlah) hari (ketika) musuh-musuh Allah di giring ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan semuanya. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali pertama dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan.” Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamubahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, Dia telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. ( Fushshilat :19-23 )

Jika jumlah saksi di hari itu sedemikian banyaknya, berarti betapa telitinya perhitungan amal di Hari Kiamat. Tentang hal itu, Allah menunjukkannya dalam firman-Nya:

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. ( Al Anbiyaa’ : 47 )

Mari kita telaah dan renungkanlah sejenak firman Allah berikut ini:

Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. ( Al Anbiyaa’ : 47 )

Dengan kata lain, sesudah diberikan jaminan ini, manusia akan menuntut jaminan keadilan; kesempurnaan; dan ketelitian dalam perhitungan amal atau menuntut jaminan keadilan dan rahmat. Sesudah keadilan dan rahmat Allah, tidak ada lagi keadilan dan rahmat yang lain. Allah berfirman:

Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan. ( Al Anbiyaa’ : 47 )

Ali bin Abi Thalib ra, pernah ditanya, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana Allah akan memerhitungkan amal seluruh manusia dalam satu waktu?” Beliau menjawab,”Allah memperhitungkannya sama seperti Dia memberikan rezeki kepada mereka dalam satu waktu.”

 

About these ads