Pria dan Wanita Muslim mempunyai hak untuk memperoleh Pendidikan didalam Islam.

Pembahasan untuk masalah ini dalam 2 bagian:

*. Pria dan Wanita berhak memperolah pendidikan didalam Islam.
*.Lalu kenapa Muslim Ekstrim melarang kaum Wanita untuk memperoleh pendidikan.

*. Pria dan Wanita berhak memperolah pendidikan didalam Islam.

Pendidikan dan ilmu merupakan kewajiban bagi Muslim pria maupun Muslim wanita. Seperti yang diserukan oleh Allah SWT dan Muhammad SAW:

“…adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” sesungguhnya orang yang berkallah yang dapat menerima pelajaran. (al-Quran:39:9)

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanya orang yang berwawasan/berpengetahuan. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.( al-Quran:35:2)

Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Ashari: Rasullah berkata, Barangsiapa yang mempunyai budak wanita, kemudian ia mengajari budaknya ahlak yang baik dan mengembangkan pengetahuannya dan kemudian memerdekakannya lalu mengawininya, dia akan mendapat pahala yang berlipat ganda;dan bagi budak yang mencari kebenaran Allah akan mendapat pahala berlipat ganda pula.(Terjemahan Sahih Bukhari, Pembebasan Budak, Volume 3, Kitab 46, Nomor723)

Hadis nabi Muhammad saw diatas, uhruj (dikeluarkan) disaat beliau secara bertahap menghapuskan perbudakan dilingkungan kaum Muslim saat itu. Sungguh aneh jika memang kaum wanita dilarang untuk meraih pendidikan maka apa guna dan maksud ayat-ayat Quran dan hadis diatas?!. Adalah sudah jelas bahwa hak untuk mendapat pendidikan didalam Islam tidak melihat gender dan tidak ada diskriminasi gender antara pria dan wanita.

Diriwayatkan oleh Abu Darda’: Dia berkata:”Jika seorang berjalan untuk menuntut ilmu, Allah menyediakan untuknya jalan utama menuju surga. Dan Para Malaikat merendahkan sayap-sayapnya dalam keceriaan kepada orang tersebut yang menuntut ilmu, dan seluruh penduduk langit dan bumi bahkan sampai ikan yang didalam air mendoakan dia dan memohon ampunan baginya. Keutamaan bagi seorang yang menuntut ilmu karena taat bercahaya seperti bulan, dimalam hari ketika penuh, diantara bertaburan bintang. Para penuntut ilmu adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak meninggalkan sedinar pun pula sedirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan, dan barang siapa yang mengambilnya maka dia telah mengambil ilmu yang berlimpah. (Sunan Abu Dawud, Kitab Al-Ilm, Buku 25, nomor3634)”

Dalam surat Quran dan Hadis diatas, dengan jelas memberitakan pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah hak bagi pria dan wanita. Orang yang punya pengetahuan tidak sama dengan yang tidak berpengetahuan (Qs 39:9). Dan bagi yang paling banyak berpengetahuan maka pula paling faham, cinta dan takut kepada Allah SWT.

Jadi pendidikan untuk pria dan wanita didalam ajaran Islam merupakan hal penting dan keharusan. Karena sebagai tolak ukur dari tingkat pemahaman akan Allah SWT maupun tanda-tanda yang Dia tunjukkan kepada kita dalam bentuk sains dan secara logis.

Juga, bagi siapa yang menuntut ilmu dan pendidikan dipahalai surga dan para malaikat merendahkan sayap-sayapnya kepadanya dengan kegembiraan, dan memohon ampun untuknya. Dan mereka disebut sebagai pewaris para nabi.

Kita juga dengan jelas melihat pengetahuan duniawi yang tidak benar menyebabkan orang tersebut tidak masuk surga. Maka itu ada baiknya segala ilmu yang kita tuntut, lebih baik untuk kebenaran dan untuk kemanusiaan.

*Lalu Kenapa Segolongan Muslim ekstrim melarang kaum wanita memperoleh pendidikan?

Harap diketahui satu-satunya negara atau golongan Muslim ekstrim yang melarang wanita mendapat pendidikan adalah ‘Taliban’ di Afghanistan. Dan sisanya, yaitu 1.4 trilyun populasi Muslim tidak memiliki atau menyerukan hukum yang melarang wanita untuk pintar atau menuntut ilmu sehingga mendapat gelar akademis tinggi.

Saudi Arabia adalah negara, tidak melarang wanita untuk memperoleh pendidikan tinggi. Saudi Arabia, walaupun begitu, melarang kaum wanita mengemudikan mobil. Dan saya tidak tahu dari mana mereka mendapat ide dung.u atas fatwa itu. Padahal mereka tahu dengan jelas bahwa mobil belum ada pada 1.400 tahun lalu. Maka keputusan (fatwa) yang anda lihat di Afghanistan dan Saudi Arabia yang melarang wanita untuk menjadi pintar dan melarang wanita mengemudikan mobil adalah HANYA KEPUTUSAN MEREKA SENDIRI LEWAT WEWENANG SEBAGAI PENGUASA NEGARA MASING-MASING, DAN TIDAK BERPIJAK PADA ISLAM. ATAU LEBIH TEPATNYA MALE DOMINATION, Sebuah usaha untuk melanggengkan dominasi pria di berbagi sektor kehidupan.

Saya pribadi tidak mengerti maksud Saudi itu, bahkan saya rasa, saya tidak akan pernah bisa mengerti. Karena bunda Khadidjah ra, istri nabi besar Muhammad saw pun adalah seorang pedagang sukses yang kaya raya. Khadidjah ra biasa melakukan perjalanan dengan untanya dan berdagang, tawar-menawar harga, bertransaksi dan sebagainya dengan kaum pria, karena posisinya sebagai padagang.

Juga, bunda Aisha ra, salah seorang istri Nabi besar Muhammad saw yang lain, bukan hanya sebagai perawi hadis yang brilian, beliau juga sebagai pengajar banyak kaum Muslim saat itu dan sebagai tempat bertanya sahabat-sahabat terkenal saat itu seputar Islam dan hukum-hukum lainnya. Boleh percaya atau tidak bunda Aisha ra pernah memimpin 60.000 Muslim pria setelah wafat nabi saw. Dalam ‘perang Unta’ atau ‘Battle of Camel’.

Dan banyak laskar-laskar kaum Muslim di masa Rasullah yang berkelamin wanita. Yang mereka ikut berjihad dalam menyumbang tenaga, harta, pemikiran dan waktu. Demi memperjuangkan kalimat Allah.

Yang menjadi masalah pada tubuh Taliban, Afghanistan, adalah banyak dari pemimpin mereka adalah orang-orang buta huruf. Mereka tidak mengetahui cara membaca dan menulis secara benar. Seperti Mullah Omar pemimpin puncak mereka, sebagai contoh nyata akan kesalahan yang fatal akan keputusan-putusan (fatwa) dung.u yang keluar dari munas-munas Taliban. Seperti yang telah kita lihat dibagian awal dari artikel ini, bagi yang kurang pendidikan dan pengetahuan mempunyai problem dalam mengerti Tuhan dan ajaranNya.

Saya tidak mengharapkan kepemimpinan yang benar dari cara kepemimpinan yang pernah dipraktekan Taliban di Afghanistan. Maka, ketika mereka memberikan fatwa yang menentang pendidikan untuk kaum wanita, itu murni keluar dari penafsiran mereka yang semerawut, dan bagi mereka, itu adalah yang haq (benar).

Juga kaum Taliban memberikan fatwa bahwa semua Syiah adalah kafir, oleh karenanya, mereka boleh dibunuh. Dan pengikut-pengikut mereka, yang sudah pasti lebih tidak berpendidikan lagi, secara membabi buta dan secara konyol mengikuti fatwa pemimpin-pemimpin mereka dengan cara memelintir perintah Allah SWT seperti dalam surat:

“Hai orang-orang yang berima, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu”.(Qs:4:59)”.

Karena bagi mereka, Taliban adalah “ulil amri”, maka pengikutnya secara membabi buta. Mereka dan pemimpin mereka nyata sekali minim pengetahuan tentang Islam, karena maksud ayat Quran 4:59 diatas, membicarakan ulil amri Hanya dalam konteks ajaran Islam atau selama masih dalam ruang Islam.

Dan maksud ayat Qs 4:59 ini dijelaskan secara gamblang oleh nabi besar Muhammad saw:

Diriwayatkan oleh Abdullah:”Rasullah berkata:’ Seorang Muslim berkewajiban mendengarkan dan mematuhi (perintah pemimpinnya) biarpun dia suka atau tidak suka, selama perintah tersebut tidak dimaksudkan untuk menentang Allah dan menyerukan ketidak benaran, tapi jika perintah tersebut mengajak menentang Allah dan menyerukan ketidak benaran maka jangan didengar dan jangan pula dita’ati. (Terjemahan Sahih Bukhari, Ahkam, Volume 9, Kitab 89, Nomor 258).

Maksud ayat tersebut diwajibkan mengikuti ulil amri selama mereka masih dijalan Haq dan menyerukan kebenaran, nah kalau konteksnya seperti Taliban yang melarang kaum wanita untuk berkembang dalam pendidikan dan membunuhi kaum Syiah namanya bukan lagi Haq tapi sudah batil, maka wajib hukumnya untuk TIDAK DIIKUTI DAN TIDAK DI TA’ATI BAHKAN HARUS DITUMBANGKAN!.

Sejarah kelam terulang di Afghanistan. Abad-abad lalu dunia Islam berkali-kali mengalami perang saudara karena kekurangan pengetahuan otoritas-otoritas Muslim terhadap Islam. memberi fatwa semudah membalik telapak tangan. Namun seorang ulama atau mullah akan menanggung tanggung jawab besar karena fatwanya, terutama jika fatwanya berimbas kepada terbunuhnya banyak nyawa yang tidak berdosa.

Allah Knows Best.

————————-

Baca juga:

·        Dalam Islam, bolehkah memaksa kaum wanita untuk kawin?

·        Hukum Waris Wanita Menurut Islam dan Kristen

·        Kebanyakan Penghuni Neraka adalah Kaum Wanita?

·        Wanita, Anjing, Keledai membatalkan Shalat?

·        Kebanyakan Penghuni Neraka adalah Kaum Wanita?

·        Wanita dan Pendidikan Sebenarnya didalam Islam

·        Wanita dan pendidikan yang sebenarnya:

·        Pria dan Wanita Muslim mempunyai hak untuk memperoleh Pendidikan didalam Islam.

·        Kesetaraan antara pria dan wanita dalam Al-Quran oleh Tariq Al Swaidan:

Busby SEO Test

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s