Jihad dan Amerika

Karena memandang Islam sebagai ancaman bagi hegemoni imperial USA itulah, maka dengan harga apapun, Amrik dan Barat berusaha sekeras mungkin mempertahankan hegemoni imperialnya, mempertahankan rezim-rezim boneka untuk melawan dan membungkam musuh2nya sebagai salah satu upaya mereka dalam mempertahankan hegemoninya.

Rezim-rezim itu menghalalkan segala cara , berkerja sama dengan Negara-negara imperialis, untuk mempertahankan kekuasaannya! Padahal bila mereka sudah dianggap tidak kooperatif bagi kepentingan USA dan skutunya! Mereka akan di lengser kan sendiri oleh Amrik. seperti yang terjadi pada Shah Iran, Marcos filiphina, pula Soeharto. Ironisnya masih ada saja orang-orang yang mau jadi boneka kaum imperialis.

Kini mereka (Amrik n skutu2nya) melihat bangkitnya Islam Fundamentalis di mana-mana, yang mereka pandang mengancam hegemoni imperial mereka, USA pun resah. Akhirnya digunakanlah cara-cara klasik untuk memperlemah semangat jihad umat Islam agar tidak membahayakan kpentingan Amrik. Salah satunya dengan menggunakan “devide et imper” ataw “politik belah bambu”

Jihad atau terorisme?

Peristiwa 11 september 2001 tlah menghancurkan salah satu simbol kedigdayaan ekonomi Amrik, gedung World Trade Center (WTC), dan salah satu simbol kedigdayaan militer dunia, yakni gedung pentagon. Terlepas dari siapa pelaku dan dalang dari aksi dahsyat tsb, peristiwa WTC masih menyisakan satu wacana yng menarik di dunia Islam, yaitu wacana ttg terorisme dalam sudut pandang Islam.

Opini yng gegap gempita di suarakan oleh berbagai kalangan- baik muslim maupun nonmuslim- adalah kutukan terhadap aksi “terorisme”, termasuk aksi 11 september 2001 di New York dan Washington yang menewaskan ribuan orang. Banyak kalangan Muslim yang berusaha membangun opini bahwa aksi itu merupakan aksi terkutuk, yng sbenarnya sudah di rekayasa oleh Bdn Intelejen Israel, Mossad, atau di rekayasa oleh Amrik sendiri. Karena itu sebagian kalangan Muslim menyatakan, kalau Osama Bin Laden terbukti terlibat dalam aksi 11 sept 2001 itu, maka ia pun harus di hukum. Osama membantahnya dengan menyatakan bahwa pelakunya adalah kelompok militan bersenjata di Amrik sendiri *(rakyat merdeka 29 sept 2001).

Konsekuensinya, terjadi tindakan “latah secara berjamaah” oleh sebagian kaum Muslim dengan ikut2 an melakukan kutukan terhadap apa yng di sebut “terorisme”, tanpa melakukan pengkajian mendalam terhadap istilah yang sebenarnya sudah di rekayasa makna dan tujuannya oleh Amrik dan Barat. Mungkin krn Muslim sudah brada dalam posisi terpojok krn kata “teroris” sudah di persepsikan oleh publik sbagai “tindakan jahat”, sebagaimana kata “Islam fundamentalis”,”Islam militan”, “Islam radikal” dsb. Apalagi, Bush saat berpidato di depan kongres Amrik, 20 sept 2001 memberikan ultimatum kpd sluruh manusia di muka bumi: “Every nation in every region has a decision to make:” either you are with us, or you are with the terrorist. From this day forward, any nation that continues to harbor or to support terrorism will be regarded by the united states as a hostile regime”

Terjemahan bebas dari ultimatum Bush itu bahwa bangsa skrng ini hanya punya dua pilihan, mau ikut Amrik atau teroris. Bangsa yng melindungi terorisme akan dimasukkan kedalam kategori “pemerintah jahat, pemerintah musuh”. Itu ancaman sang penguasa dunia saat dunia saat ini. Amrik telah berhasil memenangkan perang opini dengan memaksakan suatu istilah “terorisme” dalam arti “tindakan kejahatan” yang di lakukan oleh musuh-musuh Amrik. Dunia pun mau tidak mau terseret. Yng tidak mendukung kebijakan Amrik akan di hukum; di boikot ataw tidak di kucuri bantuan ekonomi. Di dalam bab berikutnya masalah definisi “terorisme” menurut/ secara leksikal (makna kamus).

Kata teror, dalam bahasa Arab di sebut dengan istilah “irhab”. Kamus Al Munawwir mendefinisikan rahiba-ruhbattan, sbg khaafa “takut”. Dan al irhab diterjemahkan dengan “intimidasi, ancaman”. Sementara Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English mengartikan kata Terror diartikan sebagai great fear; terrorism di artikan sebagai use of violance.

Dalam Al Quran, kata irhab dapat di temukan dalam surah al-Anfaal (8) ayat 60,

“…Kamu menggentarkan (turhibuuna) musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya.”

Dalam ayat di tsb di gunakan kata turhibuuna. Raghib al-Asfahani dalam mufradaat mu’jam lialfaadhil Qur’an, memberikan penjelasan tentang kata irhab, dengan makhafatun ma’a taharruzin wa idlthirabin ketakutan yang di sertai dengan kehati-hatian dan kepanikan. Jika kata irhab dalam bahasa Arab modern di gunakan sebagai pengganti kata “terror”, maka bisa di simpulkan bahwa ALLAH memerintahkan agar kaum muslimin menjadi “terroris”, yakni menimbulkan “rasa takut” dan “gentar” pada musuh2 Allah dan musuh kaum Muslimin.

Jadi menurut ayat ini, kaum Muslimin diperintahkan untuk menimbulkan “ketakutan” pada musuh-musuh Allah dan musuh umat Islam, baik yang tampak maupun yang tidak tampak (yakni kaum Munafik). Apakah ini bisa dikatakan bahwa Al-Quran memerintahkan umat Islam menjadi “terroris” terhadap musuh-musuh Allah dan musuh-musuh umat Islam. Imam ibnu Katsir dalam tafsirnya juga mengartikan “turhibuuna” dengan “tukhawwifuuna” menakut-nakuti.

Jadi tidak di ragukan lagi bahwa Allah SWT memerintahkan umat Islam agar “membuat gentar” atau “menakut-nakuti” musuh2 Allah dan musuh2 kaum muslimin sehingga mereka tidak lagi berani menyerang atau bertindak sewenang2 terhadap umat Islam. spt yng tlah kita fahami bersama dlm bhs Arab,”membuat takut” itu di sebut sbg “irhab” atau “terrorisme”. Jadi secara akademis, dalam arti leksikal (kamus) atau makna generik-yng belum bercampur dengan opini politik-umat menjadi “teroris”, yng tugasnya membuat rasa takut musuh2 Allah dan musuh2 umat Islam. Imam Ibn Katsir menyebut musuh2 Allah adalah minal kuffaar dari kalangan kaum kafir!

Sebenarnya dalam istilah sehari2, melakukan terror terhadap para penjahat atau musuh2 masyarakat , adalah hal yng lumrah dan dianggap baik oleh masyarakat. Polisi meneror mental prampok or pencuri agar takut berbuat jahat, misalnya dngn ancaman “tembak di tempat. Spt juga polisi menakut-nakuti masyarakat indonesia yng melakukan sweeping terhadap warga Amrik, dengan ancaman akan diambil tindakan tegas atau di tangkap. Ini juga sebagai bentuk2 terror, menakut-nakuti atau menimbulkan rasa gentar untuk berbuat sesuatu. Perangkat hukum juga melakukan terror kepada pejabat pemerintah untuk tidak korupsi dsb.

Karena itu, masalahnya bukan terletak pada istilah “terror” dan “terrorisme”, tetapi pada “subjek” dan ”objek” terror itu sendiri. Islam sudah memberikan garis bahwa boleh saja melakukan aksi terror asalkan dengan cara2 dan sasaran yng bener. Cara dan sasaran yng boleh secara serempak telah di atur, yakni “Musuh2 Allah dan musuh2 kaum Muslim!”

Soal “membuat gentar” atau “membuat takut” musuh Allah ini sangat penting dalam pandangan Islam, sbb Rasulullah saw pernah mengingatkan,

“Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa 2 dari sluruh dunia datang mengerumunimu bagai orang yng kelaparan mengerumuni hidangan mereka.” seorang sahabat bertanya:”apakah krn jumlah kami yng sedikit pd hari itu?” Rasulullah menjawab,”bahkan pada hari itu jumlah kalian banyak sekali, tetapi kamu umpama buih dalam laut, dan Allah akan mencabut “rasa gentar” terhadap kamu dari hati musuh2 kamu, dan ALLAH akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit al-wahnu. (penyakit cinta dunia dan takut mati) (Hr.Abu Dawud)

Jadi, di simpulkan jika musuh2 Allah sudah tidak mempunyai rasa takut dan rasa gentar menghadapi kaum Muslim. akibatnya mereka berani berbuat semau mereka, menginjak-injak tempat suci umat Islam (Masjidil Aqsa), pula membunuhi umat Islam di Irak, Palistina, Afghanistan, Checnya, Moro, Kashmir dll.