Nabi saw dan Abu Jandal, Umm Kulthum

Isi perjanjian Hudaybiyyah:

1.Kaum Muslim harus pulang [ke Madinah] saat ini dan kembali di tahun berikutnya, tapi mereka tidak diperkenankan tinggal di Mekkah lebih dari 3 hari.

2.Mereka tidak di perkenankan kembali dengan bersenjata
kecuali hanya pedang yang di sarungkan dan harus di simpan di dalam tasnya masing-masing.

3.Aktivitas perang untuk sementara di tangguhkan selama 10 tahun, selama masa itu, kedua pihak akan hidup dengan aman dan tidak di perkenankan mengangkat senjata untuk berperang.

4.Jika siapapun dari Quraisy melarikan diri ke Muhammad [SAW] tanpa izin dari tuannya, maka pria itu harus di kembalikan kepada Quraisy, sebaliknya jika pengikut Muhammad [saw] kembali ke Mekkah, maka pria tidak akan di kembalikan.

5.Barangsiapa berharap ingin bergabung dengan Muhammad [saw], atau membuat perjanjian dengannya [saw]; maka mereka di perbolehkan melakukan itu. Dan barangsiapa yang ingin bergabung dengan Quraisyi dan membuat perjanjian dengannya; maka mereka di perbolehkan melakukannya.
Safiur-Rahman Al-Mubarakfuri from his book “Ar-Raheeq-ul-Mkhtoom”, i.e. the Sealed Nector, the chapter of Al-Hudaibiyah Treaty

Saya rasa penting untuk mengutip perjanjian Hudaybiyyah guna menjawab protes-protes Orcboy di bawah ini:

Penuduh mengatakan berkenaan masalah Abu Jandal

Kita perlu mempertanyakan apakah Musa pernah menyerahkan orang yang telah bertobat (terutama yang orang Mesir) kembali kepada berhala Firaun untuk menyenangkannya agar mendapatkan yang dia inginkan? Pernahkah Isa menyetujui kebenaran Tuhan dengan mengadakan persetujuan dengan para Pharisi dengan mengembalikan para pengikutnya sehingga dapat diterima oleh para penguasa Yahudi? Akankah Musa atau Isa pergi sejauh mungkin untuk mengingkari kerasulannya agar menyenangkan kehendak para penyembah berhala’? Akankah keduanya menolak memuliakan Tuhan yang sejati berdasarkan apa yang diperintahkan oleh sang Pencipta dan menyetujui permintaan untuk memanggil Tuhan berdasarkan kehendak.

Nabi Muhammad saw, berkata kepada Abu Jandal “Bersabarlah, pasrahkan dirimu kepada keinginan Allah. Allah akan menyediakan bagimu dan sahabat-sahabatmu yang tidak berdaya jalan keluar dan kelapangan. Kami telah membuat perjanjian damai dengan mereka dan kami telah bersumpah dengan Nama Allah. Maka itu, kami tidak dapat melanggarnya. [Dengan membawamu kembali kepada kami]. [Ibid]

“…Nabi [saw] berkata, “Tulislah: Dengan NamaMu Ya Allah”…”[Sahih al-Bukhari, Volume 3, Book 50, Number 891]

Lalu, apakah kita juga perlu bertanya kepada Musa dan Isa, akankah mereka membatalkan perjanjian dimana disitu terdapat NAMA ALLAH didalamnya?!

Jadi Nabi Muhammad saw, tidak dapat melanggar perjanjian yang telah beliau saw buat, apalagi dengan memakai NAMA ALLAH.

Orcboy berkenaan masalah Umm Kulthum Uqba b. Mu’ayt

Umm Kulthum Uqba b. Mu’ayt menyeberang ke rasul pada masa tersebut. Dua saudara lelakinya ‘Umara dan Walid’ anak Uqba datang dan bertanya kepada rasullullah untuk mengembalikannya kepada mereka berdasarkan perjanjian antara dia dan Quraysh di Hudaybiyya, namun Muhammad menolak. Tuhan melarang itu.”
(Sirat Rasulullah, hal. 509; huruf miring sebagai penegasan)

Karena itu, Muhammad memberikan alasan pelanggaran sumpahnya dengan dalih bahwa itu adalah kehendak Tuhan untuk melakukan itu. Sayangnya untuk kaum Muslim, ini akan membuktikan bahwa Tuhannya Muhammad bukanlah Tuhan menurut Kitab Suci Alkitab karena melanggar sumpah adalah jelas dilarang. (banding dengan nas Bilangan 30:1-2)

Perlu di catat, betapa standar gandanya sipenuduh ini, di atas dia menyalahkan Nabi Muhammad saw karena memegang janjinya, pada kasus Abu Jandal. Sekarang dia menyalahkan Rasulullah saw di karenakan tidak memegang janjinya, dengan tidak mengembalikan kaum wanita yang meminta suaka ke Madinah.

Untuk merespon argumen sipenuduh, penting untuk di ketahui Um Kultum Uqba binti Mu’ayt adalah seorang wanita, dan kaum wanita tidak termasuk dalam perjanjian Hudaybiyyah, Perjanjian tersebut hanya berlaku bagi kaum pria [lihat isi perjanjian Hudaybiyyah diatas], oleh karena itu Nabi saw tidak melanggar P.Hudaybiyyah. Dan lagi, Allah melarang mengembalikan kaum Mukmin wanita jika mereka meminta suaka ke Madinah:

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka… (QS. 60:10)

Ayat diatas membantah tuduhannya. Nabi besar Muhammad saw terbukti tidak bersalah pada kasus Abu Jandal dan juga tidak melanggar janjinya kepada kaum Qurasyi– dengan tidak mengembalikan Um Kultum Uqba binti Mu’ayt yang berlindung ke Madinah. Sebaliknya beliau saw memegang janjinya, karena beliau adalah sebaik-baiknya manusia dalam memegang janjinya.

Shalat dan salam Allah semoga berlimpah atasmu, ya ushwatun khasanah…yaa insanul kamil…ya khatamul anbiya Muhammad Sallahu alaihi wassallam!