Kebenaran Ramalan Al Quran

Masa waktu turunnya wahyu dari surah ini di tentukan, secara jelas, oleh kejadian sejarah yang telah di singgung di awal. Di katakan:”…” di masa itu Byzantium menduduki wilayah-wilayah yang berdekatan dengan Arab, seperti; Yordan, Syria dan Palistina, dan wilayah-wilayah ini orang-orang Romawi ditaklukan oleh orang Iran di masa 615 M, maka dapat di katakan secara mutlak bahwa surah ini di turunkan di tahun yang sama, dan di tahun yang sama dimana terjadi migrasi ke Habasyiah.

Menurut komentar Syed Maudani:

<http://www.usc.edu/dept/MSA/quran/maududi/mau30.html&gt;

Nubuatan ini terbagi dalam dua bagian:
1. Bahwa orang Romawi Keristen [Byzantium], meskipun mereka di taklukan di masa ini, akan menguasai Iran setelah sembilan tahun.
2. Bahwa kaum Muslim akan merasa gembira di hari kemenangan Romawi atas Iran; dimana juga, mereka akan meraih kemenangan atas kaum Musryikin, meskipun para penyembah berhala, pada masa itu, merasa pasti menang karena jumlah mereka lebih banyak di banding kaum Muslimin.
[“Muhammad In World Scriptures,” Volume I, Maulana Abdul Haq Vidyarthi (New USA Edition, 1999), p. 253. ]

Kedua nubuatan itu tergenapi pada masa 10 tahun pada 624 M.

“Pada masa waktu tertentu, tepatnya setelah sembilan tahun, tentara Romawi memasuki Iran dengan jaya, dan di waktu yang sama kaum Muslim juga mencetak kemenangan atas kaum Musryik di perang Badar. Dan peristiwa kemenangan Romawi terjadi pada masa 624 M, dan ini di catat di dalam Ensyclopaedia Britannica, ‘Chrosroes II’:
“Di masa 624, Heraclius maju ke Media sebelah utara, di mana ia menghancurkan kuil api suci -Goudzak”.

Ibid., emphasis added.

“[Kaisar Byzantium] Heraclius memulai serangan balasan pada masa 623 M, dari Armenia. Dan di tahun kemudian, pada 624 M, ia memasuki Azerbaijan dan menghancurkan Clorumia, tempat kelahiran Zoroaster, dan membinasakan Kuil api utama di Iran. Segala puji bagi Allah SWT, dan ini adalah tahun yang sama di mana kaum Muslim memperoleh kemenangan yang menentukan pada perang Badr. Dan kedua nubuatan itu tertulis dalam surah Rum, dan tergenapi secara serempak dalam masa waktu 10 tahun yang telah di tentukan.

Syed Maudani, supra :

Yang luar biasa adalah, pada masa Rasullah membacakan wahyu surah Rum, penggenapannya terlihat sangat tidak mungkin menurut pengamatan manusia secara objektif: ini adalah kondisi di kala surah Qur’an di turunkan, dan nubuatan itu di buat, mengatakan:”…” Surah itu bukan hanya berisi satu nubuatan namun dua; pertama, nubuatan bahwa Romawi akan menang; ke dua, kaum Muslimin juga akan peroleh kemenangan di waktu yang sama.

Namun nampaknya, ada kesempatan dari penggenapan ini menjadi tidak tergenapi dalam berapa tahun kemudian. Dan di satu pihak, ada sebagian kecil kaum Muslim, yang dikalahkan dan disiksa di Mekkah, bahkan sampai delapan tahun dari awal nubuatan ini, tetap tidak tampak kesempatan untuk menang dan menaklukkan kaum Musryik.
Dan dilain pihak, bangsa Romawi kehilangan dan terus kehilangan wilayahnya setiap hari. Dan pada masa 619 M, seluruh Mesir telah di rebut pihak Sasanid, Persia dan tentara Magian telah mencapai jauh menunju Tripoli. Di Asia kecil mereka mengalahkan dan memaksa Romawi mundur sampai Bosporus. Dan pada 617 M, mereka merebut Kaldea [Chalcedon,Kadikoy] tinggal berhadapan dengan Konstantinopel, ibu kota Byzantium, Romawi. Kaisar Roma mengirim utusan kepada Kisra, Persia, memohon di adakannya perjanjian damai bersyarat, tapi Kisrah menjawab, “Aku tidak akan memberi perlindungan kepada Kaisar, sampai dia di bawa kehadapanku dengan dirantai dan meninggalkan imannya kepada Tuhannya yang disalib itu dan kemudian tunduk kepada Dewa Api!”.

Akhirnya, Kaisar sangat putus asa karena kekalahannya dan memutuskan untuk meninggalkan Konstantinopel dan berpaling ke Kartage [Tunis]. Secara singkat, sejarawan Inggris, Gibbon mengatakan, “bahkan pada waktu tujuh sampai delapan tahun setelah turunnya nubuatan dalam al-Qur’an [surah Rum], kondisinya sangat muskil bagi siapapun untuk mengkhayalkan bahwa Romawi, Byzantium, akan memperoleh kemenangan atas Iran, Sasanid. Jangankan berbicara menang, bahkan tak ada seorang pun yang menyangka Byzantium, dalam situasi seperti itu, akan selamat.”

“Dalam mimpi, Rasullah saw melihat dirinya memasuki Mekkah dan melakukan Tawaf di sekeliling Ka’bah. Kemudian beliau [saw] menceritakan mimpinya kepada para sahabatnya di saat beliau [saw] masih di Madinah. Di kala mereka menuju Mekkah di tahun Al-Hudaybiyyah [Perjanjian Hudaybiyyah], tidak satupun dari mereka meragukan pengelihatan Nabi akan terjadi [tergenapi].

Di kala perjanjian di buat dan mereka kembali pulang ke Al-Madinah di tahun itu, baru di perbolehkan kembali ke Mekkah tahun kemudian, beberapa Sahabat tidak berkenaan atas apa yang terjadi. ‘Umar bin Al-Khattab menanyakan ini, katanya, ‘Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kami akan pergi ke Baitullah [Ka’bah] dan melakukan Tawaf? ‘Rasullah menjawab, ‘Benar, tapi bukankah aku mengatakan kepada mu bahwa kita akan mengunjungi Ka’bah pada tahun ini?’ Aku berkata, ‘tidak!’ Dia [saw] menjawab, ‘Beliau berkata, ‘Maka kamu akan mengunjunginya dan melakukan Tawaf di sana!”

Umar [ra] lebih lanjut berkata, “Aku menemui Abu Bakar [ra] dan berkata, ‘Wahai Abu Bakar! Bukankah beliau [saw] benar-benar seorang Nabi?’ beliau [ra] menjawab, ‘Benar!’.‘Aku [Umar ra] berkata, ‘lantas kenapa kita di hinakan dalam agama?’ Abu bakar [ra] menjawab, ‘Sungguh, beliau [saw] adalah Rasullah dan tidak akan tidak patuh kepada Tuhannya, dan Dia [SWT] akan memenangkannya. Setialah padanya [saw], Demi Allah, beliau [saw] benar. ‘Aku [umar ra], ‘Bukankah beliau [saw] berkata kepada kita bahwa kita akan pergi ke Ka’bah dan melakukan Tawaf?’ beliau [Abu Bakar ra] menjawab, ‘Benar, tetapi bukankah beliau [saw] katakan kepadamu bahwa kamu akan berziarah ke Ka’bah pada tahun ini?’ Aku [umar ra] menjawab, ‘tidak!.’ Abu bakar[ra] menjawab, ‘Kamu akan berziarah ke Ka’bah dan melakukan Tawaf.’

Inilah mengapa Allah SWT berfirman “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya…..bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, Insya Allah.” untuk memastikan mimpinya adalah benar bukan sebuah penipuan, “dalam keadaan aman”disaatmemasukinya, “mencukur rambut kepala dan mengguntingnya” itu adalah keadaan disaat memasukinya karena di saat itu, mereka belum mencukur rambut kepalanya dan “sedang kamu tidak merasa takut” ini untuk mempertegas keadaan mereka di waktu memasuki Mekkah mereka akan merasa aman dan tidak takut, dan ini terjadi di saat Haji [color=red]‘Umrat-ul-Qada’ di bulan Zul-Qaidah, 7 H.

Menurut laporan Ibn Kathir, nubuatan baru tergenapi di tahun berikutnya. ‘ Pernyataan Umar ibn Al-Khattab yang sengaja tidak di kutipkan secara penuh oleh Mr.Shamoun, yang padahal Umar ra akhirnya mengakui bahwa Nabi Muhammad saw tidak mengatakan kepada para Sahabatnya bahwa mereka akan memasuki Mekkah pada tahun yang sama. Maka, mana argumen Orcboy yang mengatakan nubuatan Nabi saw tidak tergenapi?!!

Dan di tahun berikutnya, nubuatan tersebut tergenapi. Sheik Saifur-Rahman Al-Mubarakfuri mengatakan dalam bukunya ““Ar-Raheeq-ul-Makhtoom”, i.e The Sealed Nector, dalam bab The Compensatory ‘Umrah (Lesser Pilgrimage)

“Ketika mendekati bul Dzul-Qaida yaitu hampir 7 tahun setelah Hijrah Ke Madinah El-Munawarrah, Nabi [saw] memerintahkan para Sahabatnya, dan para saksi perjanjian Al-Hudaibiyah khususnya, untuk mengadakan persiapan berangkat Haji Umrah.

Beliau [saw] berangkat beserta 200 kaum pria dan beberapa kaum wanita dan anak-anak [Fath Al-Bari 7/700], dan 60 ekor unta untuk kurban, untuk mengunjungi Baitullah di Mekkah. Kaum Muslim membawa senjata-senjata mereka, khawatir kaum Quraisy mengkhianati mereka.

Mereka memasuki kota dengan pedang dalam warangkanya [sarungnya] [Za’d Al-Ma’ad 2/151; Fath Al-Bari 7/700], dengan sang Nabi [saw] di muka sambil menunggangi untanya, Al-Qaswa’, mereka mengelilingi Nabi [saw] dengan terus menjaganya sembari mengatakan: “Labaikk Allahuma Labaik!” [Inilah kami ya Allah, datang memenuhi panggilanMu!] dan orang-orang Quraisy meninggalkan mereka dan menyingkir ke tendanya masing-masing.

Kaum Muslim melakukan ibadahnya dengan semangat, khusyu dan cepat, dan karena rekomendasi Rasullah [saw], mereka melakukan dengan baik untuk menunjukkan kekuatan dan kesungguhan dalam beribadah, tidak seperti gosip yang di tiupkan kaum Mursryk Quraisy bahwa mereka sedang lemah di karenakan penyakit demam yang menimpa Madinah yang mengikis tenaga kaum Muslim. Mereka di perintahkan untuk berlari pada 3 putaran pertama dan berjalan pada putaran terakhir. Orang-orang Mekkah, sementara itu, menyaksikan dari puncak gunung Qu’aiqa’an, mereka menyaksikan itu dengan decak kagum melihat kekuatan dan ketaatan kaum Muslim, di saat mereka memasuki Baitullah.”

Lebih lanjut jika membaca lagi perihal nubuatan “Memasuki Mekkah”, seseorang dapat dengan mudah mengetahui bahwa surat itu menjanjikan kemenangan yang dekat kepada kaum Muslim sebelum memasuki kota Mekkah, untuk ibadah Umrah. Dan janji itu tergenapi pada penaklukan Khaibar pada bulan Muharam, 7 H. Dan janji itu tertulis dalam:

“…dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat [waktunya]” [Qs48:18].

“…dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”[Qs 48:27].

Jadi anggapan bahwa al-Quran salah memprediksi terbantah dikarenakan dia menyatakan bahwa Ibadah Haji Umrah itu di lakukan pada tahun yang sama. Dan hal ini di bantah langsung oleh Nabi besar Muhammad saw dan Abu bakar ra, yang akhirnya Umar ra pun mengakui kesalah fahaman dirinya. Dan pengkeritik utama yaitu Mr. Shamoun melakukan kecurangan dengan tidak mengutip laporan Ibn Kathir secara keseluruhan, bahkan hadis yang dia pergunakan untuk mengangkat masalah ini pun membantahnya.

Maha Benar Allah Dengan Segala Yang di FirmankanNya.