Darwinisme dan sejarah ke kekejaman Eropa

Ilmuwan sesat, adalah Charles Robert Darwin (1809-1892) seorang petualang asal Ingris, kemudian dikenal sebagai bapak evolusi. Darwin melalui bukunya yang berjudul The origin Species, by Means of Natural Selection (Asal usul Spesies, melalui Seleksi Alam) menyebarkan kesesatan berselimut keilmiahan.

Ringkasnya dia menjelaskan bahwa semua spesies mahluk hidup yang hidup di dunia ini-termasuk manusia-berasal dari nenek moyang yang sama, yakni mahluk bersel satu sejenis protozoa. Mahluk bersel satu ini tercipta dengan sendirinya-tanpa melibatkan Tuhan, terdiri dari asam amino dan air.

Mahluk sederhana itu kemudian melakukan adaptasi dengan alam, sehingga mendapatkan sifat baru yang lebih baik dari sebelumnya. Sifat baru itu kemudian diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya, sehingga terakumulasi, dan akhirnya tercipta spesies baru yang sama sekali berbeda dengan moyangnya. Mahluk baru itu kemudian berevolusi juga hingga tercipta spesies baru yang lainnya. Begitu seterusnya, sehingga muncul berbagai spesies yang ada sekarang, termasuk manusia.

Menurut Darwin, semua proses itu berjalan begitu saja secara alamiah, tanpa ada peran Tuhan di dalamnya. Alam telah memiliki mekanisme sendiri untuk mengatur kehidupan di dalamnya. Jadi tidak perlu melibatkan Tuhan untuk mengaturnya. Pemikiran ini ada di benak Darwin dikarenakan dia seorang penganut faham agnotisisme, yakni faham yang meragukan keberadaan Tuhan.

Dalam pandangan Darwin, di alam ini seluruh mahluk hidup harus senantiasa berjuang untuk mempertahankan kehidupannya (struggle for life) dengan ketentuan mutlak, hanya mahluk yang unggul, yang dapat beradaptasi dengan alam akan bertahan hidup (survival for the fittest), lalu dapat melahirkan keturunan baru dan selanjutnya dapat melahirkan spesies baru. Sedangkan yang lemah, yang tidak mampu beradaptasi akan mati lalu punah. Mekanisme itu ia sebut sebagai seleksi alam (natural selection).

Sepintas lalu teori Darwin itu seperti tidak punya dampak apa-apa, kecuali sekedar sebuah teori dalam bidang biologi dan paleontologi. Tapi sejarah menunjukkan, teori Darwin atau Darwinisme yang tadinya sebatas pada bidang biologi itu kemudian berkembang menjadi “Darwinisme Sosial”, yakni penerapan teori Darwin dalam berbagai bidang kehidupan manusia, mancakup sosial, ekonomi, politik.

Darwinisme Sosial kemudian hanya memberikan dampak buruk kepada kemanusiaan, dengan menjadi komponen pendukung bagi faham rasialisme, fasisme, kolonialisme, imperialisme, kapitalisme dan komunisme.

Menurut Darwin, ras kulit putih (Eropa) dikatakan sebagai ras beradab, karena proses evolusinya lebih sempurna dari pada kulit berwarna (Asia dan Afrika). Sedangkan ras kulit berwarna dikatakannya sebagai ras biadab, karena sifatnya ‘masih dekat’ dengan kera dan gorila. Karena itu Darwin meramalkan kelak ras kulit putih akan memenangkan pertarungan itu dengan mengalahkan ras kulit berwarna, sehingg ras kulit berwarna akan punah. “Di masa mendatang, tidak sampai berabad-abad lagi, ras-ras manusia beradab hampir dipastikan akan memusnahkan dan menggantikan ras-ras biadab (kulit berwarna) di muka bumi,” tulis Darwin.