Menepis Kekeliruan Pandangan Tentang Poligami

Pada akhir-akhir ini muncul generasi yang memiliki pemikiran sebagaimana orang-orang Barat. Mereka mendapatkan pendidikan Barat, baik di negeri sendiri ataupun orang kafir, dan dicekoki dengan pemikiran-pemikiran orientalis yang memusuhi Islam.

Terkadang sangat jelas kebatilannya dan juga terkadang tampaknya baik, tetapi dibalik itu terdapat penyimpangan yang disembunyikan, hingga menimbulkan kerancuan dan kekacauan pemikiran dikalangan kaum Muslimin. Yang pada akhirnya pemikiran mereka berkembang hingga taraf pengingkaran terhadap syari’at. Di antara kerancuan pemikiran mereka, poligami dianggap sebagai perbuatan zhalim, sehingga tidak benar jika diperbolehkan. Sebagian lagi ada yang secara terang-terangan menentang poligami, sebagian dengan cara halus.

Berikut kami contohkan di antara syubhat yang mereka lontarkan.

Syubhat.

Para penentang poligami menyatakan adanya larangan Nabi saw kepada Ali untuk menikahi anak perempuan Abu Jahl dan mengumpulkannya dengan Fatimah binti Nabi saw.

Dengan menyandarkan kepada larangan Nabi saw kepada Ali agar tidak mengumpulkan Fatimah dengan anak perempuan Abu Jahl, maka sebagian penentang poligami memberikan komentar dan mengatakan, sesungguhnya Rasulullah saw telah melarang Ali untuk menikah dengan anak perempuan Abu Jahl dan dikumpulkan bersama Fatimah. Bila Rasulullah saw sebagai teladan, maka kami melawan para suami menikahi wanita lain bersama dengan anak-anak perempuan kami, dan kamipun tidak melakukan poligami, karena ini termasuk di antara perkara-perkara yang bisa menyakiti orang-tua maupun isteri-isteri kami.

Jawaban:

Syubhat yang mereka lontarkan itu, hakikatnya sudah tertolak dengan firman Allah saw:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. [An Nisaa’ (4):3].

Dalam ayat ini Allah saw membolehkan seseorang laki-laki untuk menikahi wanita lebih dari satu, dan juga memerintahkan untuk menikahi satu isteri saja bila merasa khawatir tidak mampu berbuat adil. Adapaun Rasulullah saw yang melarang Ali memadu Fatimah, beliau sendiri menikah denga sembilan isteri, maka ucapan beliau adalah hujjah, demikian juga dengan perbuatannya. Bantahan secara detail, di antaranya terdapat di dalam hadits itu sendiri. Pendapat ini lebih utama, sedangkan yang lainnya merupakan kesimpulan dan pendapat dari para ulama. Berikut adalah penjelasannya.

1.Bantahan tersebut telah datang dalam nash hadits tersebut sebagaimana disebutkandalam sabda Nabi saw:

Tidak akan berkumpul putrid Nabi Allah dengan anak perempuan musuh Allah selama-lamanya.

Dalam riwayat Muslim:

Dalam suatu tempat selama-lamanya.

Dalam riwayat lain disebutkan:

Pada satu laki-laki selama-lamanya.

Maka ini termasuk di antara nikah yang diharamkan, yaitu mengumpulkan antara putri Nabi saw dengan putrimusuh Allah saw. Demikian pendapat sebagian ulama.

Ibnu Tiin berkata,”Pendapat yang paling benar dalam membawa makna kisah ini adalah bahwasanya Nabi saw mengharamkan kepada Ali, yaitu tidak mengumpulkan putri beliau saw dengan anak perempuan Abu Jahl karena akan menyakiti beliau, dengan menyakiti Nabi hukumnya haram berdasarkan ijma’. Adapaun sabda Nabi saw: “Aku tidak mengharamkan perkara yang halal.” Maknanya, dia (putri Abu Jahl) halal baginya kalau saja Fatimah bukan isterinya. Sedangkan mengumpulkan keduanya yang dapat menyakiti Nabi saw, maka tidak boleh [Fathul-Bari; 9/328).

Imam Nawawi berpendapat diharamkan mengumpulkan antara keduanya dan makna sabda Nabi “Aku tidak mengharamkan perkara yang halal,” maksudnya ialah, aku (Nabi) tidak mengatakan sesuatu yang menyelisihi hukum Allah SWT. Jika Allah SWT menghalalkan sesuatu, aku tidak akan mengharamkannya. Dan jika Allah mengharamkan sesuatu, aku tidak akan menghalalkannya. Dan aku, juga tidak diam dari pengharaman sesuatu, karena diamku berarti penghalalan terhadap sesuatu. Maka, ini termasuk di antara nikah yang diharamkan, yaitu mengumpulkan antara putri Nabi saw dengan putri musuh Allah SWT [Syarhu Muslim; 5/313).

2. Hadits ini menunjukkan di antara kekhususan Nabi saw, yaitu putri-putri beliau tidak boleh dimadu (Fathul-Bari ;9/329).

3. Hal ini khusus bagi Fatimah, karena dia telah kehilangan ibunya dan juga saudara-saudara perempuannya, sehingga tidak tersisa lagi orang yang bisa diajak bertukar pikiran atau meringankan beban pikiran, atau untuk menyampaikan rahasia apabila muncul rasa cemburunya (Ibid). Berbeda dengan isteri-isteri Nabi saw, karena jika mereka mendapatkan problem semisal diatas, maka mereka bisa mengadu kepada orang yang bisa menyelesaikan masalah tersebut, suami mereka, yakni Nabi saw. Ini disebabkan dengan apa yang ada pada beliau, yaitu sifat lemah lembut, kebaikan hati, menjaga perasaan. Sehingga semua isteri beliau ridha dengan kebaikan ahlak dan seluruh sikap beliau, sehingga jika muncul kecemburuan, maka bisa segera teratasi dalam waktu cepat.

4. Sesungguhnya hal itu bukan berarti larangan, akan tetapi maksudnya, Nabi saw dengan sikap percaya dirinya dan keteguhannya kepada Allah SWT – dan ini termasuk karunia Allah SWT kepada beliau – tidak akan mengumpulkan Fatimah dengan putri Abu Jahl. Seperti perkata Sahabat Anas bin Nadhir tatkala saudara perempuannya mematahkan gigi seorang wanita, dan Nabi saw memerintahkan untuk menegakkan qishash, akan tetapi Anas bin Nadhir berkata:”Apakah engkau akan mematahkan gigi Rabi’? Tidak! Demi Allah SWT. Engkau tidak mungkin mematahkan giginya, selama-lamanya. Maka keluarga wanita tersebut akhirnya mau menerima diyat dan gigi seri milik Rabi’ tidak dipatahkan, sehingga berkatalah Rasulullah saw:

Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah kalau dia bersumpah dengan nama Allah, Allah berkenan mengabulkannya[Fiqh Ta-adud as-Zaujat, 127].