Menepis Kekeliruan Pandangan Tentang Poligami II

Syubhat


Para penentang poligami menyatakan tidak mungkin bagi para suami mampu berbuat adil di antara para isteri, dengan dalih firman Allah SWT :

Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja. (an-Nisaa’:3)


Dan Allah telah berfirman :


Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walapun kamu sangat ingin berbuat demikian. (Qs an-Nisaa’:129)

Jawab:

Yang dimaksud dengan “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil” dalam ayat ini adalah rasa cinta, kecondongan hati dan hubungan badan. Adapun perkara-perkara yang zhahir , seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari satu untuk berbuat adil.

Dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah: “Tidak boleh mengutamakan salah satu diantara para isteri dalam pembagian. Akan tetapi, bila ia mencintai salah satunya lebih dari yang lainnya, atau berhubungan badan lebih banyak dari yang lainnya, maka ini tidak mengapa. Dalam masalah ini Allah SWT telah menurunkan ayat-Nya : (an kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri (mu), walapun kamu sangat ingin berbuat demikian.). –Qs an-Nisaa’ ayat 129-, yaitu dalam rasa cinta dan berhubungan badan”. (Majmu’ al fatawa :32/269)

Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim menjelaskan : “Adapun rasa cinta, beliau saw lebih mencintai Aisyah dibandingkan dengan yang lainnya. Dan kaum Muslimin sepakat, bahwa menyamakan rasa cinta kepada semuanya bukan merupakan kewajiban, karena ini diluar kemampuan seseorang kecuali Allah SWT menghendakinya. Adapun dalil dalam bersikap, maka demikianlah yang diperintahkan”. (Syarah Muslim: 5/297)

Imam Ibnu Hajar juga berpendapat senada. Beliau berkata,”Apabila sang suami memenuhi kebutuhan sandang, pandang dan tempat tinggal bagi seluruh isterinya, maka tidak mengapa baginya jika dia melebihkan sebagian lainnya dalam hal kecondongan hati atau pemberian hadiah. (Fathul-Bari : 9/313)

Dalam masalah keadilan ini, Syaikh Musthafa al Adawi memberikan dua peringatan.

  1. Menyamakan dalam berhubungan badan meskipun ini tidak wajib akan tetapi disunnahkan untuk berbuat adil dalam hal ini, ini lebih baik, lebih sempurna dan jauh dari sikap berlebih-lebihan dalam kecondongan hati, sebagaimana yang ditemukan oleh sejumlah Ulama’. Imam Ibnu Qudaamah dalam kitab beliau “Mughni mengatakan : Bila memungkinkan menyamakan dalam berhubungan badan maka ini lebih baik lebih utama dan lebih sesuai dengan makna adil (al Mughni 7/235)

Dalam kitab al Majmu’ Syarah al Muhadzab disebutkan, dianjurkan bagi suami untuk menyamakandalam berhubungan badan, karena ini lebih sempurna dalam berbuat adil. Kalau dia tidak melakukannya, maka tidak mengapa. Karena dorongan untuk melakukan hubungan badan adalah nafsu syahwat dan rasa cinta. Dan tidak mungkin menyamakan di antara para isteri. Oleh sebab itulah Allah SWT berfirman :

Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian. (An Nisaa’ :129)

Menurut Abdullah bin ‘Abbas, yaitu dalam hal ini rasa cinta dan hubungan badan. ‘Aisyah sendiri menjelaskan, bahwasanya Rasulullah saw membagi di antara isteri-isteri beliau dan berbuat adil, kemudian (beliau saw) berkata:”Ya, Allah. Inilah pembagian isteri-isteriku yang aku miliki dan janganlah Engkau cela diriku pada apa yang Engjau miliki dan tidak aku miliki,” yaitu hati.”(Al Majmu’ Syarah al Muhadzab :16/430). Dan di bagian lain dikatakan: “Akan tetapi dianjurkan untuk menyamakan di antara para isteri dalam berhubungan badan, karena ini menjadi tujuan”(Ibid : 16/433).

  1. Seorang suami wajib untuk memenuhi kebetuhan biologis isterinya, tentunya sesuai dengan kemampuannya. Kalau tidak melakukannya maka dia tidak akan merasa aman dari kerusakan yang mungkin terjadi pada isterinya, bahkan terkadang dapat menyebabkan permusuhan kebencian dan perselisihan diantara keduanya (Fiqh Ta-adud as-Zaujat, hlm. 98, dengan beberapa tambahan.).

Syubhat

Para penentang poligami berpendapat, bahwa poligami justru akan melahirkan banyak persolana yang mengancam keutuhan bangunan mahligai rumah tangga. Sering timbul percekcokan. Belum lagi efek domino bagi perkembangan psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka merasa kurang diperhatikan, haus kasih saying dan, celakanya, secara tidak langsung dididik dalam suasana yang kedap perselisihan dan percekcokan tersebut. (Perkataan Muhammad Abduh seorang tokoh controversial dari Mesir, Rasyid Ridha, Tafsir al Manar IV, th. 347-350 dinukil dari situs JIL)

Jawab

Pendapat ini dapat kita bantah sebagai berikut: Perselisihan yang muncul diantara para isteri merupakan hal yang wajar, tumbuh dari rasa cemburu merupakan tabiat wanita. Untuk mengatasi hal tersebut, tergantung kepada kemampuan suami dalam mengatur urusan rumah tangganya, keadilannya terhadap isteri-isterinya, rasa tanggung jawab terhadap keluarganya, demikian juga tawakalnya kepada Allah SWT.

Apabila ini semua sudah terpenuhi, maka akan tegaklah kehidupan keluarganya, diliputi dengan rasa kasih saying di antara anggota keluarganya. Atau kalau tidak terpenuhi, akan hancurlah keluarga tersebut, baik keluarga yang berpoligammi ataupun tidak. Kenyataannya dalam kehidupan rumah tangga tampak seperti itu, walaupun menikah hanya dengan satu isteri (monogami). Bahkan terjadi pertengkaran, hingga mengantarkan pada perceraian, dan menyebabkan anak-anak menjadi terlantar.

Memang ada benarnya, terkadang pertengkaran menimpa keluarga, orang yang melakukan poligami tetapi hal ini terjadi karena kurang tanggung jawab sang suami, dan karena ketidak adilannya terhadap para isterinya. Ini membutuhkan jalan penyelesaian, bukan dengan cara menolak praktek poligami,yang didalamnya terdapat banyak kebaikan sebagai dalil untuk menolak diperbolehkannya poligami.

Syubhat

Para penentang poligami mengatakan Islam, sebagai agama yang diturunkan untuk menegakan keadilan, sama sekali tidak pernah memerintahkan umatnya berpoligami. Qs An Nisaa’ ayat 3 kerap kali dijadikan dalil pembenar. Padahal pembenar. Padahal, ulama membaca ayat tersebut tidak seragam. Setidaknya ada 3 pendapat menilai ayat tersebut. Pertama, boleh tanpa syarat, Kedua, boleh dengan syarat darurat; dan ketiga, haram lighairihi. Pendapat ketiga mengisyaratkan bahwa pada esensinya, poligami tidaklah haram. Namun, karena akses yang ditimbulkannya luar biasa membawa kemudharatan, maka poligami menjadi haram (Musdah Mulia, Sekjen ICRP, dalam kesempatan tatap muka dengan beberapa wartawan di Jakarta : 8/12).

Jawaban:

Subhanallah! Ini merupakan kedustaan besar atas agama Allah dan ayat-ayatNya. Bagaimana mungkin dikatakan bahwa Islam sama sekali tidak pernah memerintahkan umatnya berpoligami? Bagaimana dengan ayat yang telah disebutkan Allah SWT, yaitu:

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. (An Nisaa’ 4:3)

Para ulama menjelaskan tentang tafsir ayat ini, bahwasanya hukum asal berpoligami adalah boleh. Bahkan sebagian ulama mengatakan perkara ini dianjurkan bagi yang mampu.

Syaikh Muhammad Amin mengatakan dalam kitab tafsir Adwa’ ul-Bayan, bahwasanya Islam membolehkan menikah dengan lebih dari satu isteri, (yaitu) dua, tiga atau empat (Adwa’ ul-Bayan 8/44)

Juga Imam Ibnu Katsir, di dalam tafsir beliau tentang ayat ini menyebutkan, nikahilah wanita yang kalian kehendaki selain dari mereka, jika kalian menghendaki dua orang, tiga orang atau empat orang (Tafsir al Quranul-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir 1/598).

Demikian juga perintah Nabi saw : “Nikahilah wanita yang banyak melahirkan anak dan cinta kepada suami. Sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lainnya” (Di riwayatkan oleh Imam Abu Dawud no. 2050).

‘Abdullah bin ‘Abbas juga mengatakan: “Menikahlah! Sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang paling banyak isterinya” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari 5069).

Maknanya dengan banyaknya menikah akan memperbanyak umat, dan inilah yang menjadi tujuan pernikahan. Para ulama menjelaskan, boleh melakukan poligami, dengan syarat harus bersikap adil. Dalam hal ini, adil yang dimaksud adalah dalam perkara yang zhahir; bukan yang bathin, seperti rasa cinta, kecondongan hati, sebagaimana yang telah dijelaskan diatas.

Adapun perkataan “namun, karena akses yang ditimbulkannya luar biasa membawa kemudharatan, maka poligami menjadi haram.”

Timbul pertanyaan, apakah sesuatu yang dibolehkan Allah dan banyak membawa kebaikan akan membawa kemudharatan? Allah-lah Yang paling mengetahui tentang kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, dan yang paling bijaksana dalam menetapkan hokum-Nya. Maka kalau dalam berpoligamiterdapat kekurangan yang disebabkan perilaku sebagian individu, maka tidaklah kemudian disama-ratakan hukumnya. Penilaian yang menggeneralisir ini, sungguh suatu penilaian yang sangat keliru.

Demikianlah sebagian diantara pandangan keliru yang dilesatkan para musuh Islam kepada kaum Muslimin tentang poligami. Sehingga bisa jadi menumbuhkan keragu-raguan di kalangan umat Muslimin pada umumnya. Dengan demikian, setahap demi setahap keraguan ini bisa menyebabkan penolakan terhadap syari’at Allah secara keseluruhan. Kita berlindung dan memohon pertolongan kepada Allah, semoga Allah SWT selalu membimbing kita pada kebenaran. Tetap berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.

Wallahul-Musta’an.