Sekularisme Di Barat.

Dr Yusuf Qaradhawi.

Di Barat Kristiani, sekularisme muncul dan bahkan diserukan oleh para pemikir bebas agar mereka terlepas dari ikatan gereja, para pemuka agama dan pendetanya.

Pada abad pertengahan, gereja datang membawa pemikiran dan ajaran bersifat menentang akal dan rasio, mempertahankan kebekuan melawan ilmu dan kebebasan, tampil dengan kekolotannya menghadapi kemajuan, bersama para raja menghadapi raja dan bersama-sama kaum feodal memusuhi kaum buruh dan mereka yang tertindas di bumi.Sejarah tidak akan melupakan sikap keras gereja dalam menentang para ahli fikir merdeka yang dengan hasil penilitan ilmiah dan nalarnya mengeluarkan sejumlah pandangan dan teori yang bertentangan dengan apa yang diyakini oleh para aktivis gereja baik dalam ilmu kimia, fisika maupun geografi dan lainnya. Wacana keilmuan dijadikan oleh gereja sebagai sesuatu yang kudus yang menjadi bagian dari agama, tidak boleh seorang punmenentangnya atau pemahamannya berbeda dengannya karena semata-mata hasil pemikiran atau kajian.

Gereja memusuhi orang yang menyampaikan teori ilmu yang bertentangan dengan ajarannya, seperti berpendapat bahwa bumi itu bulat dianggap sesuatu kekafiran dan keluar dari agama, padahal kaum Muslimin telah melepas teori ilmu seperti ini dalam buku agama mereka sebagaimana penulis mendapatkan Ibnu Hazm dalam Al-Faslu Fi Al-Milal Wa An-Nihal telah mengemukakan sejumlah dalil aqli tentang bulatnya bumi, yang juga dikemukakan oleh ulama Islam lainnya.

Siapa saja yang membaca sekelumit saja dari kekejaman gereja terhadap orang-orang yang mengemukakan teori dan pandangan keilmuan yang bertentangan dengan ajarannya sampai ketingkat menyiksa jenazahnya dan membakarnya, juga memberikan penyiksaan kepada yang hidup dari orang-orang itu dalam bentuk penyiksaan yang mengerikan. Siapa saja yang membacanya, tentu akan memaklumi kalau para ilmuan dan pemikir kemudian menuntut dipisahkannya agama dari kehidupan sosial dan pemerintahan. Karena dengan pemisahan tersebut, mereka terhindar dari beragam penyiksaan yang mengerikan dan sadis itu.

Gereja saat itu cermin dari teror agama, teror pemikiran, dan teror politik yang mengancam setiap orang yang dibenaknya memiliki pandangan atau pemikiran yang bertentangan dengan pandangan gereja yang ia jadikan sebagai bagian dari agama padahal sebenarnya bukan.

Adalah suatu keberuntungan bagi Barat khususnya dan umat manusia pada umumnya, bahwa mereka dapat melepaskan diri dari tirani gereja dan dari cengkaraman kuku-kukunya yang ganas serta terbebas dari pengaruh pandangan gereja yang telah menguasai akal dan hati manusia atas nama agama.

Inilah faktor yang membidani lahirnya gereka sekularisme di Barat suatu hal yang logis menurut logika sejarah.

Ada faktor lain yang memunculkannya, yaitu logika filsafat yang beredar di Barat ketika itum, yaitu filsafat Aristoteles, seorang filsuf paling terkenal dan terbesar yang paling banyak mewarnai aliran pemikiran di abad pertengahan di Barat, bahkan di negara-negara Islam.

Filsafat Aristoteles adalah filsafat yang mempengaruhi adanya Tuhan dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Namun ia memandang Allah sebagai penggerak pertama tidak berperan mengatur urusan dunia ini dan tidak mengetehui sedikit pun tentang apap yang terjadi didalamnya, baik yang masuk kedalam bumi maupun yang keluar darinya. Tuhan baginya hanya mengenal Dzat-Nya Yang Sempurna. Dia tidak punya peran terhadap alam ini dengan segala kejadian di dalamnya. Dia tidak menghidupkan dan tidak mematikan, tidak mencipta dan tidak memberi rezeki, juga tidak memberi manfaat dan mudharat. Sehingga orang sejarawan filsafat dan peradaban Wyill Durent dalam bukunya, Mabaa Hij Al-Falsafah berkomentar tentang pandangan Aristoteles ini, dia berkata,

“Sungguh amat miskin Tuhan Aristoteles. Ia mirip dengan raja Inggris, raja tetapi tidak berkuasa.”

Filsafat model inilah yang mempengaruhi pemikiran Barat yang menyimpan pemahaman bahwa Allah telah menciptakan alam, namun setelah itu membiarkannya sendiri bagaikan si pembuat jam yang membiarkannya berjalan sendiri setelah ia selesai membuatnya.

Maka tidaklah heran kalau pemikiran ini memisahkan Allah dari penguasaan-Nya terhadap mahluk-Nya, karena tidak ada hak baginya untuk menyuruh dan melarang, dan tidak ada hak baginya membuat undang-undang dan hukum untuk mengatur kehidupan.

Ini termasuk kontradiksi yang mengherankan dalam pemikiran Barat karena manusia menurut mereka adalah binatang yang berkembang kalau boleh dikatakan, dan dalam waktu yang sama ia adalah Tuhan.

Ada faktor lain, yaitu faktor ketiga yang menjadikan gerakan sekulerisme ini mendapat tempat di dunia Barat, yaitu logika Masehi yang dianut oleh Barat secara umum, sekalipun banyak individu dari mereka yang tidak beragama.

Faktor ketiga ini ialah sebagai teks agama Masehi yang isinya bagi manusia menjadi dua bagian dan membagi hidup menjadi dua bagian. Sebagian diserahkan kepada agama, sedangkan sebagian lain diberikan kepada pemerintahan, atau menurut redaksi Injil: Sebagian untuk Allah dan sebagian untuk Kaisar. Masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri, Inilah yang tampak dari apa yang diucapkan oleh Isa Al-Masih dalam Injil,”Biarkanlah Kaisar mengurus yang menjadi bagiannya dan Allah mengatur apa yang menjadi tugasnya.”

Maka dari ucapan ini adalah adanya kerjasama dan pembagian tugas antara Allah dengan Kaisar.

Tentu saja tugas khusus yang diserahkan kepada kaisar adalah mengatur dunia, kehidupan, masyarakat, dan pemerintahan, sedangkan tugas yang khusus bagi Allah adalah agama, dan masalah-masalah ruhani, yang masing-masing tidak boleh saling mengintervensi.

Inilah yang disebagai oleh Sekularisme, yakni menyerahkan urusan agama dan ruhani untuk Allah, untuk gereja yang mewakili Allah dimuka bumi, mengatur pembantisan, sembahyang, jabatan kependetaanm mengirim para ruhaniawan dan zending keberbagai penjuru dunia untuk menyeru manusia ke pada agama Masehi dan hal-hal lain yang mejadi tugasnya yang tidak boleh ditentang.

Sementara persoalan politik, kenegaraan, hukum, ekonomi, pendidikan dan pengajaran, penerangan dan kebudayaan, urusan perang, dan damai serta masalah kehidupan yang lain, semuanya tugas kaisar, yakni tugas negara yang pihak lain tidak boleh ikut campur dan tidak ada kaitannya dengan agama.

Logika ini jelas ditolak oleh kita sebagai Muslimin sesuai dengan tuntutan akidah kita, karena Allah ‘Azza wa Jalla penguasa alam semesta ini, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan langit dan bumi, bagi-Nya seluruh isi langit dan bumi. Hanya Dia satu-satunya pengatur alam ini,

“…Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (Al An’aam : 57)

Hanya Allah pembuat undang-undang dan Penguasa, baik hukum itu berkenaan dengan alam dalam artian Allah sebagai pengatur satu-satunya terhadap alam ini sesuai undang-undang-Nya maupun hukum tersebut berkenaan dengan syari’at dalam artian bahwa hanya Allah saja yang memerintah dan melarang, yang menghalalkandan mengaharamkan sesuatu atas hamba-Nya.

Jika Injil dan agama Maehi mengakui adanya pembagian hidup dan manusia antara Allah dan kaisar, maka Al-Quran dan Islam mengatakan bahwa Kaisar dan apa yang dimiliki Kaisar hanyalah milik Allah yang Esa.

“ Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (Al An’aam : 162,163)

Dengan demikian, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan pemimpin agama sekaligus pemimpin pemerintahan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah imam dalam shalat yang juga komandan perang dan pemimpin ketika damai. Beliau adalah hakim pemutus perkara dan pemutus berbagai persoalan hidup.

Begitu juga para Khulafa Rasyidin setelah beliau. Mereka adalah juru da’wah sekaligus pemimpin Negara. Mereka berfatwa tentang beragam perkara agama tetapi juga mengatur Negara.

Begitulah para pakar politik syar’i dalam Islam, mereka mengetahui bahwa khalifah adalah pengganti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam menegakkan agama dan mengatur urusan dunia.

Ajaran Masehi Tidak Memiliki Undang-undang untuk Mengatur Kehidupan

Sisi lain adalah bahwa ajaran Masehi tidak memiliki undang-undang yang rinci tentang mengatur hidup ini baik berkenaan dengan muamallah (pergaulan sesama) maupun lainnya dan tidak mempunyai peraturan yang detail yang menjelaskan dasar dan neraca keadilan untuk menjalankannya. Yang ada hanyalah seperangkat nilai-nilai ruhani dan ahlak yang termuat dalam pesan-pesan Injil dan ucapan Al-Masehi. Berbeda dengan Islam yang berisikan akidah dan syari’ah serta meletakan dasar-dasar kehidupan manusia mulai dari buaian hingga ke liang kubur,

“Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”.( An Nahl :89)

Oleh karena itu, syariat Islam mencakup halal dan haram bagi kehidupan individu selain mengatur hak dan kewajiban dalam lingkup keluarga dan masalah-masalah mu’amalah dan pergaulan di masyarakat antara sesama. Syari’at Islam juga mengatur masalah managemen, politik, ekonomi, hak-hak pemimpin dan rakyat, hubungan antar Negara dan bangsa-bangsa di dunia, baik dengan sesame Muslim maupun non-Muslim, baik dalam keadaan damai maupun ketika perang.

Iniliah cakupan fiqih Islam, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan individu Muslim, masyarakat Muslim, berkenaan dengan thaharaah (bersuci), berjihad (perang), tatakrama makan dan minum hingga membangun Negara dan pemerintahan.

Ajaran Masehi tidak memiliki syar’at seperti ini. Sebagi rujukan, agama Masehi, undang-undangnya merupakan qanum (undang-undang) sipil/perdata wadh’i yang tidak memberikan dampak kepada penganutnya. Karena ia tidak memperdulikan peraturan yang telah difardhukan oleh agama atasnya dan tidak merasa adanya kontradiksi antara akidahnya dengan realitas, sedang seorang Muslim berbeda dengannya. Seorang Muslim diwajibkan oleh keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya untuk bertahkim kepada keduanya dan mematuhi perintah dan larangan keduanya, serta merasakan dan menyadari hal itu,

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara merekaialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur :51)