Para Mujahid Islam

Kini mereka tak lain hanyalah golongan minoritas. Yang dicurigai, ditakuti dan dihina bukan saja oleh nonmuslim bahkan kaum Muslim sendiri berkesan alergi dahsyat kalau mendengar nama ini. Sudah menjadi sunnatullah tiap masa ada sejarah sekaligus tokoh brilian disampingnya. Di samping para tokoh tersebut ada orang-orang pendukung setia, kader, aktivis. Mereka berkerja sama dan cerdas mewujudkan cita-cita ideologisnya dengan segenap potensi yang dimilikinya.

Mujahidin IslamPara nabi dan rasul selalu menemukan orang-orang setia. Seperti tokoh Nabi Isa a.s dengan “ Hawariyun”, sedangkan tokoh Nabi Muhammad s.a.w dengan “Sahabat” nya. Mereka awalnya komunitas kecil yang berkualitas tinggi, yang akhirnya mampu mengubah wajah dunia. Suatu saat mereka adalah para reformis, disaat lain mereka kelompok revolusioner.

Disamping kelompok diatas, ada sejumlah besar masyarakat yang lebih memlih “diam”. Jika mereka beragama, bagi mereka cukup kalau dapat menjalankan “ibadah” ritual saja, tanpa perlu menjadi aktivis. Dengan berbagai alasan mereka menolak untuk terlibat dalam “Harakah Islamiyah”. Mereka tidak mau mengambil resiko sekecil apapun dalam beragama. Meskipun demikian, mereka tidak membenci para aktivis agama. Bahkan sesekali mereka ikut menyumbangkan hartanya. Tragisnya golongan kedua ini mayoritas.

Mengenai dua golongan ini al-Quran memberikan penjelasan:

Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk-duduk (pasif) padahal mereka tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad (aktif) di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, beberapa dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(An Nisaa: 95-96)

Perlu di ketahui, salah satu rahasia dibalik kemenangan yang di capai secara cepat di masa nabi Muhammad karena presentase Mujahidnya sangat besar. Hampir semua kaum muslimin di jaman Nabi adalah para aktivis atau mujahid dan pejuang. Semua padu dalam Jama’ah Harakah di bawah pimpian nabi besar Muhammad saw. Dan bagi mereka yang pasif otomatis terasing dari komunitasnya sendiri.

Namun keadaannya terbalik dimasa sekarang. Jumlah mujahid sangat kecil dibanding kaum yang pasif. Yang lebih menyedihkan lagi para mujahid berbalik menjadi pihak yang terasing di komunitasnya sendiri. Mereka menjadi “mahluk aneh” ditengah-tengah kaum Muslim. Malah tak jarang menerima perlakukan yang kurang simpatik.

Dalam keadaan umat Islam yang seperti ini, di perparah dengan munculnya golongan ketiga- yakni, golongan yang mengusung mazhab modernisme dan liberalisme. Secara gencar mereka mengkampanyekan pemikiran-pemikiran, yang lebih tepanya produk pemikiran Barat.

Masalah pluralisme, kesamaan gender dan HAM adalah isu ampuh mereka. Mereka tidak suka penegakan syariat Islam, dengan alasan; tidak demokratis, mengancam HAM dsb. Mereka cocok dicap sebagai kelompok “syari’ah phobia”. Kelompok phobia ini tak lain adalah kelompok zhalim. Dan mereka juga berkongsi dengan orang-orang tidak beriman. Bersama mereka dengan giat ingin menghapuskan spirit jihad di hati umat Muslim.

Kemudian kami jadikan kamu berada diatas suatu syariat dari urusan agama itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun (siksaan) Allah.

Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa (Al Jatsiyah 18-19)

Kelompok pasif umumnya cenderung cocok dengan kelompok ketiga ini. Karena dirasa sejalan dengan pola pikir manusia ‘beradab’ dan demokratis. Mereka akhirnya berkiblat kepada kelompok ketiga ini dibanding dengan para Mujahid. Pemikiran kelompok ketiga tak lain kamuflase dari tujuan mereka sebenarnya, yaitu ingin meredupkan perjuangan Islam dan mencabut semangat Jihad dari tiap diri Muslim. Kelompok ke tiga ini rajin mendengungkan hadis; jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Yang padahal adalah hadis dhaif. Lalu bagaimana bisa keadaan menjadi baik jika tiap muslim hanya sibuk menata diri masing2x tanpa peduli dengan sekitar. Tanpa jama’ah harakah, umat Islam hanyalah serakan lidi. Betapapun jumlahnya tidak berarti, cukup dua jari patahlah sebatang lidi.

Dalam al-Quran Allah berfirman:

Adapun orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian lain. Jika kamu (hai kaum Muslim) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan dimuka bumi.(Al Anfal:73)

Ayat diatas menegaskan hanya dua pilihan, yaitu kerusakan di muka bumi atau kesejahteraan di atasnya. Jika umat Islam mengambil sikap “pasif” (kelompok ke dua) apalagi menjadi kelompok ketiga,”zalim”, maka kekacauan dan kebinasaan yang akan kita rasakan.

Sebaliknya jika kita semua menginginkan kesejahteraan, maka umat Islam harus bangkit mengambil peran dan sikap aktif, bergabung bersama dalam jama’ah harakah, melaksanakan amar ma’ruf nahi anil munkar secara jama’i.

Inilah resep orisinil yang di sampaikan dari langit, yang pernah dibuktikan kemanjurannya oleh para sahabat Rasullah Saw. Bukti itu direkam dan diabadikan dalam redaksi khusus oleh Qur’an:

Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan di beri rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(At Taubah:71)

Penegasan seperti ini tidak hanya sekali disampaikan Allah banyak ayat-ayat lain yang serupa dengan At Taubah :72. Dengan redaksi yang lebih beragam dalam membeberkan masalah ini.

Waspadalah terhadap setiap persekutuan dan konspirasi orang-orang zhalim, tapi lebih penting dari itu kita harus berjama’ah yang siap menghadapi segala serangan kaum yang kafir dan zhalim. Sebaiknya tiap muslim adalah aktivis yang terorganisir agar lebih istiqomah dalam penegakan syari’ah Allah di atas bumi-Nya.

Wassallam.

Allah Hafiz!