Tidak Ada Pertentangan antara Wahyu dan Akal

Oleh Dr. Yusuf Qaradhawi

Sangkaan sebagian penulis bahwa bi’ah diniah (iklim keagamaan) tidak cocok bagi iklim ilmu karena adanya pertentangan keduanya adalah tidak benar. Beberapa nash agama, sejarah dan realita menolak sangkaan ini.

Nash agama justru menyeru dan mengajak bicara kepada akal. Seseorang dipandang sebagai mukalaf (dikenai perintah dan larangan agama) karena memiliki kemampuan untuk memahami, dan mendapat tugas untuk mengamalkannya dan berijtihad terhadap maksudnya serta diseru untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak ada nash dan pernjalasannya.

Wahyu telah menyerahkan kepada akal persoalan dunia agar ditangani secara bebas.

Para muhaqqiqin dari ulama umat ini memandang wahyu dan akal sebagai dua pemandu mahluk menuju haq.

Imam Raghib Al-sfahani Rahimahullah dalam kitabnya yang berbobot. Adz-Dzari’ah Ila Makaarim Asy-Syari’ah telah berkata, “Allah ‘Azza wa Jalla mengutus dua utusan untuk mahluk-Nya, dari alam bathin yaitu akal dan dari alam lahir, yaitu rasul. Seseorang tidak akan dapat manfaat dari rasul lahir jika ia tidak terlebih dahulu memanfaatkan rasul bathin karena yang bathinlah yang mengetahui kebenaraan seruan yang lahir. Tanpanya, hujjah/keterangan tidak wajib diterima. Oleh karena itu, orang akan meragukan wahdani’yah-Nya dan nubuwah para nabi-Nya disuruh Allah untuk menggunakan akalnya.

Dengan demikian, maka akal adalah pemandu, sedang agama adalah penolong. Tanpa akal, agama akan lenyap dan tanpa agama, akal akan bingung. Gabungan keduanya disebut oleh Allah Azza wa Jalla sebagai “Nuurun ‘al Nuurin”, cahaya di atas cahaya (An Nuur:35).1

Penuturan Ar-Raghib ini dipertegas oleh ulama sezamannya, yaitu Imam Abu Hamid Al-Ghazali dalam sejumlah bukunya. Dalam kitabnya Al-Mustashfa misalnya, Al-Ghazali memandang akal sebagai hakim yang tidak dapat digeser dan diganti, sedang syariat adalah pemberi rekomendasi, pemandu dan pembimbingnya. Syari’at menjadikan akal sebagai pengemban agama dan pemikul amanah. 2

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali mengatakan bahwa syari’ah (agama) dan akal itu satu sama lain saling membutuhkan.

“Ilmu akal itu bagaikan makanan sedang ilmu syari’ah itu laksana obat. Orang yang sakit jika tidak diberi obat akan bahaya karena makanan.”

Imam Al-Ghazali menolak anggapan bahwa ilmu akal itu kontradiksi dengan ilmu syari’ah. Anggapan ini datang dari orang yang buta tentang hakikat akal.3

Kemudian dalam kitabnya Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad, Al-Ghazali mengatakan bahwa kelompok haq dan Ahlus Sunnah ialah mereka yang berjalan di antara tuntutan syari’ah dan akal dan yang yakin bahwa antara syar’at (wahyu) dan kebenaran rasional tidaklah bertentangan.4

Dalam kitab Ma’arij Al-Quds yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali ada keterangan sebagai berikut,

“Ketahuilah bahwa akal tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan syari’ah, dan syari’at tidak akan jelas kecuali dengan akal. Akal seperti fondasi, sedang syari’at adalah bangunannya. Keduanya saling menghajatkan.”

Akal juga bagaikan mata, sedang syari’at adalah lampu. Mata/pandangan tidak berguna tanpa lampu/cahaya, begitu juga lampu tanpa mata. Syari’at adalah akal yang ada di luar, sedangkan akal adalah syari’at yang ada di dalam. Keduanya tidak dapat dipisahkan.5

Oleh karena itu, sejarah kita tidak mengenal apa yang dikenal oleh sejarah Barat, yaitu pertentangan antara akal/ilmu dengan wahyu/agama. Bahkan tidak sedikit dari ulama kita yang selain pakar ilmu syari’ah juga ahli ilmu alam.

Kita mengenal Ibnu Rusyd Al-Hafidz (th 595 H). Ia seorang penghulu filosof, seorang pengurai terbesar filsafat Aristoteles. Melalui uraian-uraiannya, Barat mengenal Aristoteles dan mendapatkan pandangan-pandangannya.

Ibnu Rusyd Al-Hafidz adalah pengarang buku Al-Kulliyaat yang sangat populer dalam kedokteran yang telah diterjemahkan ke bahasa latin dan menjadi rujukan Barat selama beberapa abad dan bahkan menjadi salah satu refrensi dunia kedokteran tingkat internasional saat itu. Dalam waktu bersamaan, ia juga seorang qadhi (hakim), pakar fiqh madzhab Maliki yang menulis kitab Bidayatul-Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, sebuah kitab fiqh perbandingan madzhab yang paling dalam kupasannya dan paling bermanfaat karena sistematikanya yang mempunyai keunggulan.

Juga Muhammad bin Abu Bakar Al-Khawarizmy, penemu ilmu aljabar, namun ia pun tergolong ulama fiqh. Ia menyususn ilmu aljabar untuk memecahkan berbagai masalah dalam pengaplikasian fiqh, terutama berkenaan dengan ilmu waris dan wasiat.

—————————

1. Lihat Adz-Dzari’ah Ila Makaarim Asy-Syari’ah hlm. 207 tabliq Dr. Abu Yazid Al-Ajamiy cet, Daru Ash-Shahwah, Kairo.

2. Al-Mustashfa: 1/3.

3. Ihya Ulumudin 3/17, cet Daru Al-Ma’rifah Beirut. Ar-Raghib di Adz-Dzari’ah menyifati ilmu Syar’iah dan ilmu akal dengan perumpamaan lain.

4. Dari kitab Al-Ghazali, Al-Iqtishad Fi Al-I’tiqad.

5. Ma’arif Al-Quds hlm 57 cet. Dar Al-Afaaq Al-Jadidah Beirut. Lihat komentar penulis terhadapnya dalam buku, Al-Imam Ghazali Baina Madihihi wa Naqidihi hlm.41.

One thought on “Tidak Ada Pertentangan antara Wahyu dan Akal

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s